Rabu, 30 November 2016

sakura dimusim semi

Semua orang menyambut mesra musim gugur. Berjalan di tengah hamparan sakura. Semerbak harumnya membius penikmatnya. Sungguh fenomena yang indah.
Terlihat seorang perempuan berambut panjang sedang duduk manis di taman sakura. Dengan mata tertutup dan kepala menengadah. Membiarkan kelopak kelopak bunga meyentuh lembut wajahnya. Mengalihkan fokus seorang laki laki yang tengah menikmati pemandangan indah ini.
“Ohayou.” Sapa Yuki lembut.
“Ohayou” Sahutnya diiringi senyum manis.
“Yuki desu.” Ucap Yuki sambil mengulurkan tangan.
“Ah, Misuki desu” Ucap Misuki sambil menyambut tangan Yuki.
Yuki menatap Misuki dengan tatapan bingung. Membuat Misuki merasa risih sekaligus bingung.
“Kamu sekolah di SMA Yomikita, ne?” Tanya Yuki ragu.
“Ee. Kamu juga sekolah di Yomikita?”
“Sepertinya aku tak pernah melihatmu.”
“Aku baru pindah kesini minggu lalu”
“Ah, sou.. Lalu, kenapa kamu gak berangkat sekolah?”
“Aku ingin menikmati suasana ini sebentar lagi.”
“Kalo gitu aku berangkat duluan, ne?”
“Ee.. Dewa mata”
Semua murid menatap aneh pada sosok gadis jelita dengan mata indah di depan kelas.
“Kita kedatangan murid baru. Dia berasal dari Tokyo. Mulai hari ini, dia akan bersekolah disini. Silahkan perkenalkan dirimu.”
“Ohayou. Watashi wa Misuki desu. Tokyo kara kimashite. Douzou yoroshiku”
“Misuki san, duduklah disebelah Yuki san. Ykui san, angkat tanganmu agar Misuki san bisa melihatmu”
“Aku tidak menyangka kita akan satu kelas” Ujar Yuki.
“Aku pun begitu.”
“Kita bisa pulang bersama kalo kamu mau.”
“Aku ingin kejalan itu lagi. Aku masih belum puas menikmati indahnya bunga bunga itu berjatuhan”
“Kalo gitu kita bisa pergi kesana bersama”
Sepulang sekolah mereka berjalan bersama bergandeng tangan. Walau mereka baru saja kenal, tak ada sedikitpun kecanggungan di antara mereka.
“Kamu suka banget bunga sakura, ne?”
“Aku dan ibuku sering berjalan bersama menikmati hujan kelopak bunga setiap musim gugur”
“Lalu, sekarang dimana ibumu?”
“Dia sudah pergi ke tempat yang sangat jauh bersama ayah.”
“Gomennasai”
“Ayah dan ibuku meninggal du minggu lalu karena kecelakaan saat akan berlibur. Saat itu hanya aku yang selamat. Bibiku gak tega membiarkanku sendiri di Tokyo. Dia membawaku kesini dan melanjutkan sekolahku disini.”
Misuki tersenyum manis. Yuki tahu bahwa sebenarnya Misuki sedang menangis. Dia melihat air mata di sudut mata Misuki. Yuki meneluknya untuk menenangkan hati Misuki.
“Kamu jangan sedih. Orang tuamu pasti sudah bahagia di alam sana”
“Itu pasti. Orang tuaku adalah orang yang baik”
Semakin hari, mereka semakin dekat. Yuki sering main ke rumah Misuki. Begitupun sebaliknya.
Ini adalah hari terakhir bunga bunga itu berhenti berguguran. Yuki tak ingin melewatkan momen ini.
“Moshi moshi”
“Misuki san.. Cepatlah datang ketempat dimana kita pertama bertemu.”
“Memangnya ada apa?”
“Datang saja”
Yuki menunggu dengan gelisah. Duduk, berdiri, duduk, berdiri. Hanya itu yang ia lakukan. Hatinya benar benar tegang. Dia takut Misuki akan marah padanya.
“Yuki san?”
“Ah, sudah datang. Silahkan duduk”
“Aku tidak sedang bertamu, Akanawa Yukiteru ..”
“Hehe.. Seperti itu ne..”
“Kamu kenapa? Kamu terlihat sangat tegang?”
“Boku.. Ada hal yang ingin kukatakan padamu”
“Nani?”
“Kimi.. Kimi ga suki desu”
Yuki menunduk takut. Takut Misuki akan menamparnya. Juga takut Misuki akan menolaknya.
“Hahaha.. Kau ini ada ada saja”
“Aku serius, Misuki san..”
“Hehe.. Gomen”
“Lalu bagaimana denganmu?”
“Aku baik baik saja”
“Maksudku bagaimana perasaanmu padaku, Midorikawa Misuki.”
“Atashi..” Misuki menggantungkan kata katanys. Membuat Yuki semakin geram.
“Ayolah Misuki. Apa kau menyukaiku?”
Misuki tidak menjawabnya. Melainkan hanya mengangguk. Anggukan kecil. Namun itu berhasil membuat seorang Yuki gembira. Dia melompat lompat bahagia atas jawaban Misuki.
Mereka tertawa di bawah hujan kelompak bunga. Saling berpelukan tanpa perduli sekitar. Tapi itulah cinta. Tak ada yang tahu kapan ia akan datang dan pergi.
THE END

messenger of love

“Jangan Shuusei!” Kaori merebut ponselnya. Wajahnya memerah. “hey.. aku cuma lihat.” Shuusei tersenyum picik diikuti teman temannya yang tertawa puas. Kaori mendengus kesal ia sadar tak bisa membalas.Kaori memilih berbalik dan lekas pergi. “Uh.. Kaori marah” salah satu teman Shuusei mengejek “oy Kaori!” “Teman chat mu sepertinya suka padamu!” Teriak shuusei. kaori tersentak malu, sadar shuusei membaca chat pribadinya. Ia pun berlari ke dalam kelas. “Cewek bodoh, suka pada pria yang wajahnya saja belum ia lihat.” “kasihan..” Shuusei terdiam.
Kaori duduk di depan meja belajarnya dengan ponsel di tangan. Menatap layar ponselnya tertera pesan baru dari teman sepermainannya yang diam diam ia suka. Awalnya ia merasa aneh tiba tiba saja ada yang mengiriminya pesan dan mengajaknya berkenalan. Namun hari ke hari mereka semakin akrab dan sepemahaman dalam hal apapun. Kaori mulai merasa cocok… aneh padahal ia tak pernah melihat wajahnya mereka bahkan sepakat tak memberi tahu nama satu sama lain. namun rasanya nyaman bisa berbagi pikiran dengan orang itu. Namun semua hancur. Shuusei yang seenaknya mengacau! Sembarangan melihat ponsel kaori. Membeberkan semuanya. “Gara gara dia…! Aku diejek terus.” Kaori meringis
TING… TONG… ponselnya bunyi lagi. Orang yang Kaori sukai mengirim pesan lagi. Kaori terdiam sejenak. Ia senang tapi cemas. Ia pun membuka pesannya.
“Sedang ada masalah kah? Tumben tak membalas :)” kaori tersenyum membaca pesan itu.
“tidak… seperti biasa.. pria menyebalkan di sekolah ku menganggu tapi tak apa.” Balas kaori
“Sangat menyebalkan ya?”
“dia seenaknya dan mengacau.. sebenarnya bukan salah dia juga sih melihat ponsel ku, soalnya aku tak hati hati.”
“maaf ya.. kau kesulitan.”
“Ahaha.. tidak kok..” Kaori tersenyum. Ia kemudian terdiam.. tangannya menggeggam erat ponsel.
“Kau gadis yang baik :))”
Kaori tersenyum lebar membaca pesan itu.
“Anu..”
“Iya?.. kenapa?”
“Maaf sebelumnya.. kita sudah buat perjanjian tapi..”
“Kenapa?”
Kaori tak melanjutkan. Ia berfikir dengan gelisah. “kenapa denganku! Masa iya mau tanya namanya cuma karena masalah shuusei!” “Lagipula kita sudah janji!” Kaori mengangguk yakin. Ia mengetik lagi.
“Tidak jadi.. hehe”
“Kenapa?.. ada sesuatu ya?”
“Tidak kok,”
“Kau ingin penasaran dengan wajahku ya?.. kau takut jelek ya?”
“Ha! Tidak kok.”
“Kaori aku suka padamu… tapi aku pria yang jelek.”
“Tidak.. tidak begitu.”
Tak ada jawaban dari pesannya. Kaori bingung. “kok tidak dibalas ya?! Aduh.” “Tuh kan!!! Ah kacau! Bagaimana ini.” Kaori menaruh ponselnya dengan cemas. Ia menunggu hingga akhirnya tertidur.
Esok harinya.. belum ada jawaban juga. Kaori pun berangkat ke sekolah dengan hati gelisah. Ia sudah bulak balik lihat ponselnya. Tak ada jawaban.
Dari jauh Kaori sudah melihat shuusei dan kawannya. Ia berjalan seraya menunduk. Ia secepat mungkin berjalan. namun Shuusei menarik bahunya dan menyeringai. “Hey Kaori…” panggilnya. Kaori menahan kesalnya. Kawan Shuusei menyerobot dengan cepat “Jangan marah dong … jika kau marah teman chat mu yang baik hati itu bisa menghajar shuusei dan kami nanti.” “Eh… tapi dia bisa melawan ku tidak ya!? Siapa tau dia seorang kakek kakek atau om om penjaga parkir.” Semua tertawa “kok bisa kau suka padanya?” “Ini jamannya edan Kaori.. orang bisa melakukan apa saja.. bahaya.” Tambah mereka. “Lepas!” Kaori menangkis tangan Shuusei dari bahunya. Ia mendongkak. Matanya berkaca kaca. “Jangan ikut campur! Kau tak mengenalku dan dia!” Kaori berlalu dengan kesal.
Hingga malam ponselnya masih sepi.
Kaori menangis ia mengirimi banyak pesan. Ia mengeluarkan isi hatinya.
“Aku diejek lagi…”
“Mereka bilang kau kakek kakek.. padahal kau pelajar”
“Aku sedang sedih.”
“Apa kau marah?..”
“Maaf aku tak maksud..”
Tak juga ada jawaban. Kaori semakin sedih dan merenung seorang diri.
Satu hari.. dua hari.. tiga hari.. dan terus tak ada sms lagi. Kaori tak dapat kabar. Ia putus asa. Pesan pesannya tak dibalas. “Ada apa?… kenapa tak mengirimi sms lagi?” Kaori mengirim pesan dengan berat hati.
“Jika sedang sibuk.. aku tunggu ya.”
“Kabarmu bagaimana? Masih sibuk? Semangattt!”
Tak ada balasan.
Kaori terdiam di kursi taman sekolah. Matahari hampir terbenam dan ia masih duduk seorang diri. Ia menangis tersrdu sedu. Dadanya sesak. Ia merasa tercampakan.
Tap.. tap.. kaori mendongkak melihat sepasang kaki di hadapannya. Kaori tersentak dan menghapus air matanya.
“….” Shuusei menatap datar. “Apa yang kau lihat!” “Mau tertawa melihatku menangis!?” Kaori menyentak air matanya mengalir lagi. “Kau benar!, tak ada guna, aku bodoh! Ini jaman edan! Orang jahat!” Kaori menangis kencang. “Tapi meski orang menertawakannya aku bahagia!” “Meski itu konyol aku merasakan cinta yang tak konyol!” “Kebahagiaan… sederhanaku…” Kaori tersedu sedu nafasnya sesak. bahunya naik turun.
“Kau tak tau ap–”
Shuusei memeluk tubuh kaori dengan lembut. Kaoru terbelalak. “…” Kaori mengedipkan matanya. Ia terdiam tak berkata kata. Air matanya tetap mengalir. Tapi ia merasa hangat.. nafasnya lega. Matanya sendu menatap matahari tenggelam.
“Kaori…” Shuusei yang masih memeluknya berbisik halus. Kaori terkekeh. Tak seperti Shuusei yang seenaknya dan kasar. Ini tak seperti Shuusei.
“Namaku Shuusei Kawahara, umurku 17 tahun,… aku pelajar SMA.” Shuusei melepas pelukannya. Dan menatap wajah Kaori yang kebingungan
“Ini wajahku…” “kau suka?”
“…..” Kaori terdiam. air matanya berhenti mengalir
Ia berdiri dengan cepat dan meraih ponselnya. Kaori terlihat serius dan menelfon pria chat nya.
Drtt… Drttt… ponsel Shuusei berdering. Shuusei mengangkatnya
“Hai Kaori?” Sapa Shuusei. Kaori menganga. “Kau tak percaya jika itu aku?” “Ta.. tapi!” “Kau tak senang ya? Padahal aku tampan begini, harusnya syukur kek yang mengirimimu pesan bukan kakek kakek” “aku tak punya pulsa makannya tak kubalas sms mu,” “lagipula aku suka melihatmu marah dan menangis wajahmu jadi merah, seperti bawang.”
Shuusei heran melihat Kaori yang terus diam dan tak merespon
“Oy! Kaori?..” “kau suka padaku kan ya?” “Katamu aku kebahagiannmu.. ah aku terharu ingin menangis.” Kaori tetap diam “oy oy! Kaori?”
“Jangan bercanda sialaannnnn!!!’ Kaori berteriak histeris seraya menarik kerah seragam Shuusei “kutarik semua kata ku!!!” “Aku tak suka padamu!” Wajah kaori memerah “yah.. tak bisa begitu dong, bayar uang pulsa ku karena balas pesan mu,” “Ahhhhhh!!!!” Kaori menyabet tasnya dan berjalan pulang. Shuusei tertawa puas.
“Oy!!! Tunggu kaori!!!” shuusei menyusulnya dengan tawa sumringah.
“Katanya suka padaku?”
“Aku tak pernah suka padamuuuuu!”

haru no dai hachi

Musim semi pertama di masa remajaku
Aku mengenalmu. Kita dalam satu kelas yang sama di sekolah menengah. Pada semester dua, kamu duduk di sebelahku. Kita mulai dekat. Menghabiskan libur musim panas dengan pelajaran tambahan bersama. Menghabiskan liburan musim dingin dengan bermain denganmu. Melihat hanabi bersama saat tahun baru. Mengikuti Hari Olahraga denganmu juga. Masih banyak lagi hal-hal yang kita lakukan bersama.
Musim semi kedua.
“Hei, lihat ke papan pengumuman! Kita satu kelas lagi, loh…” saat kamu bilang begitu, aku sangat sangat sangat senang. Bahkan, jika ada kata yang lebih baik dari senang, aku akan mengatakannya. Aku mulai popular di kalangan siswa-siswa. Gossip-gossip tentang aku dan dirimu sedang gempar di sekolah. Gossipnya tentang aku yang sedang dekat dengan otaku culun. Aku tahu, yang mereka maksud adalah kamu. Kamu yang suka sekali dengan anime yang mereka sebut otaku culun. Mungkin juga, gossip itu menyakiti perasaanmu. Hingga kamu perlahan menjauh seiring meredanya gossip itu.
Musim semi ketiga
“Oi! Selamat, ya. Kamu masuk grade A. Kali ini kita tidak sekelas lagi. Aku ada di grade F!” saat itu aku kaget. Bagaimana mungkin kamu berada di grade terburuk di sekolah?! Nilai kenaikan kelasmu padahal lebih tinggi daripada nilai Seoma, murid terpintar di sekolah. Apa kamu melakukan semua ini semata-mata untuk menjauhiku?! Kalau iya, lebih baik aku saja yang menjauhimu. Kamu cukup diam di tempatmu semula.
Aku lost contact denganmu hingga hari kelulusan tiba. Pengumuman siswa dengan nilai terbaik telah diumumkan. Hasilnya adalah aku. Aku sebagai murid terbaik di sekolah terbaik juga. Aku melakukan ini agar bias satu SMA denganmu. Jika nilaiku baik, aku bisa dengan mudah memasuki semua SMA di Osaka.
Musim semi keempat
Hari pertama di sekolah tingkat atas. Pada upacara penerimaan murid baru, aku kembali menjadi murid dengan nilai terbaik pada tes penerimaan. Lalu, ketika aku berpidato, aku tidak menemukan dirimu walaupun aku sudah mengedarkan pandangan berpuluh-puluh kali. Padahal, menurut gossip yang ku dengar, kamu akan sekolah di SMA ini.
Musim semi kelima
Musim semi kedua tanpamu. Kamu dimana? Aku masih tidak mendapat kabar apapun tentangmu. Tolong, jangan membuatku menjalani hidup dengan penuh penasaran seperti ini.
Musim semi keenam.
Saat itu, aku sudah kelah 3 di grade A. Teman-teman SMP seangkatan berencana untuk reuni. Aku harap kamu ikut reuni juga sepertiku.
Sial! Ternyata kamu tidak ikut reuni angkatan kita. Akan tetapi, aku mendapat kabar tentangmu dari teman-teman. Kata mereka, kamu sekarang tinggal di Hokkaido, ya?! Jauh sekali!
Musim semi ketujuh.
Aku mulai sibuk dengan kegiatan kuliah dan pekerjaan part-timeku. Aku bahkan tidak mencari kabar tentangmu lagi.
Musim semi kedelapan.
Kamu tahu, sekarang, di musim semi kedelapan ini, aku telah berhasil menggapai dua impianku, loh… aku menjadi tenaga kesehatan di sebuah rumah sakit di Tokyo dan membangun sebuah maid caffe. Tapi, aku masih menunggumu. Sudah delapan musim semi aku lalui tanpa kekasih. Besok aku akan ke Hokkaido. Aku sudah mengetahui alamat lengkap rumahmu. Tunggu aku ya…
Aku telah berada di sebuah rumah bergaya Jepang tradisional. Aku yakin ini adalah tempat tinggalmu bersama nenekmu. “Permisi…”. Seorang wanita paruh baya menghampiriku. Aku menanyakan apakah ini rumahmu dan dimana kamu berada. Namun, wanita itu menatapku dengan sayu. Dia mempersilahkanku masuk. Dia mengantarku ke sebuah ruangan di bagian belakang rumah. Ruangan tersebut berbentuk altar. Terdapat kertas putih yang menempel di pintu. Aku berdiri di tengah altar dengan air mata yang mengalir sangat lamban. Di satu sisi ruangan terdapat lukisan dewa. Di depanku saat ini terdapat Makura-kazari yang diberi alas kain berwarna putih. Di atasnya terdapat sebuah guci dengan abu kremasi. Di sekelilingnya diberi bunga, dupa, lilin yang menyala, semangkok nasi, dan air. Lalu, aku mengamati sebuah kertas yang ditempel di dinding sebelah Makura-kanzari itu, “Beristirahatlah dengan tenang” lalu kertas yang lain, “Kobayashi Tsukasa”. Air mataku mengalir lebih deras dari sebelumnya.
Di musim semi kedelapan ini aku berdoa untukmu. Untukmu yang telah meninggalkanku lebih lama dari yang kukira. Kapan kamu kembali, Tsukasa? Bahkan, kamu pergi sebelum aku sempat mengatakan bahwa aku menyukaimu…

hanako san

Hanako adalah urban legend menyeramkan yang berasal dari Jepang. Katanya, ia dapat dipanggil di toilet perempuan urutan ketiga dari depan. Caranya adalah dengan mengatakan, “Apakah Hanako-san ada di dalam?”. Oh ya, sebelumnya ketuk dulu pintu toiletnya 3 kali. Nanti, di dalam toilet akan ada jawaban, “Ya. Aku ada di dalam.”, atau jika tidak menjawab maka Hanako akan menampakkan diri dengan wujud anak perempuan berambut bob pendek dan memakai dress bernuansa merah. Katanya, Hanako akan membawa pisau berlumuran darah untuk membunuh orang yang berani memanggilnya.
Semua murid kelas IV di SD Tunas Teratai mempercayai urban legend Jepang itu dan tak ada murid yang berani mencoba ritual pemanggilan Hanako itu. Semua murid, kecuali seorang siswi bernama Hima. Ia tak percaya sedikit pun urban legend itu. Pada saat istirahat pertama, Hima berjalan menuju toilet perempuan urutan ketiga dari depan. Ia berdiri di depan pintu toilet ketiga itu. Hima memulai ritualnya.
Hima mengetuk pintu toilet 3 kali lalu berkata, “Apakah Hanako-san ada di dalam?”. Tak ada jawaban.
Lalu, tiba-tiba Hima merasa merinding dan takut pada Hanako. Hima pun menatap ke pintu depan dan ia melihat… apa? Hanako menampakkan dirinya. Hima berteriak ketakutan dan untunglah guru agamanya dipanggil untuk mengusir Hanako.
Pada malam harinya, Hanako hadir di tiap mimpi-mimpi Hima. Hima pun akhirnya depresi dan memutuskan untuk gantung diri di halaman depan rumahnya di pohon beringin. Hantu Hima kerap menampakkan diri di toilet perempuan urutan ketiga.
Makanya, masih beranikah kamu bermain ritual pemanggilan Hanako atau permainan hantu lainnya?

janji yang tak ditepati

Di sebuah rumah sakit besar di Tokyo, seorang Ibu sedang menjalani proses persalinan. Hingga akhirnya sang buah hatinya pun lahir ke dunia ini. Suara tangisan pertama sang bayi membuat sang Ibu tersebut sangat bahagia. Bayi tersebut diberi nama Miharu. Namun tak lama kemudian kebahagiaannya itu lenyap seketika, ketika Dokter menyatakan bahwa kedua mata Miharu buta. Sang Ibu menangis tersedu-sedu mendengarnya. Ia sangat sedih karena anaknya yang baru lahir tidak bisa seperti anak-anak lain pada umummnya. Namun sang Ibu tetap merawat Miharu dengan sabar.
8 tahun kemudian…
Semakin lama Miharu mulai menyadari bahwa setiap hal yang tampak di matanya hanyalah gelap dan hitam saja. Di benak miharu mulai penuh dengan pertanyaan dan rasa penasaran. Ia pun bertanya kepada Ibunya.
“Bu… Kenapa semua yang kulihat hanyalah gelap? Kenapa aku tidak bisa melihat Ibu? Padahal ibu bisa melihatku.” Tanya Miharu dengan penuh kepolosan dan keingintahuannya pada sang Ibu.
“Nak…, dunia ini memang gelap, tapi bersabarlah sebentar lagi cahaya akan datang dalam hidupmu, itu pasti. Kau tenang saja, Ibu berjanji padamu akan membawamu ke tempat itu secepatnya.”
“Benarkah?”
“Iya…” kata sang ibu dengan senyuman manis di wajahnya.
Padahal yang Ibu tersebut maksud adalah pergi untuk operasi mata. Sang ibu tersebut tidak tega memberitahukan pada anaknya kecacatan fisiknya, terlebih lagi usianya yang masih kecil dan belum mengerti apapun. Namun 7 tahun yang lalu ia mulai mengumpulkan biaya untuk operasi mata anaknya, dan sekarang biaya yang dibutuhkan telah lebih dari cukup untuk pembiayaan operasi mata Miharu.
Beberapa hari kemudan sang Ibu membawa Miharu ke stasiun kereta untuk pergi ke Rumah sakit untuk operasi mata. Miharu dan Ibunya duduk di bangku stasiun untuk menunggu kereta tujuan mereka datang. Tiba-tiba Miharu merasa haus, dengan segera sang Ibu pun mencarikan minuman untuk anaknya. Sang Ibu menyuruh Miharu agar tetap diam disini karena ia akan segera kembali. Miharu menunggu dengan tenang dan dengan wajah gembira yang terus telukis di wajahnya.
Setelah lama menunggu sang Ibu tak kunjung kembali, kereta tujuan mereka juga telah berangkat 30 menit yang lalu. Namun Miharu tetap sabar menunggu ibunya. Tiba-tiba ada seorang laki laki paruh baya yang mendatanginya. Ternyata itu adalah paman Miharu yang bernama Takeshi.
“Miharu, ayo kita pulang nak…!” kata sang Paman dengan nada yang sedih
“hah!… Paman Takeshi?” kata Miharu dengan spontan karena mendengar suara Pamannya yang tidak asing di telinganya.
“Iya, ini paman… ayo Miharu, kita pulang!”
“Aku tidak mau! Aku sedang menunggu ibu! Ibu akan membawaku ke tempat yang terang dan indah hari ini. Ibu sudah janji.” kata Miharu. Sang Paman hanya terdiam mendengar jawaban Miharu.
1 JAM YANG LALU
Sang ibu terus mencari cari minuman, namun ia tak kunjung menemukannya. Lalu tiba-tiba ia melihat sebuah mesin minuman tepat di seberang jalur rel kereta, Sang Ibu sangat bahagia, tanpa pikir panjang, ia pun langsung berlari ke seberang jalur rel kereta. Namun naas, dengan disaat yang bersamaan sebuah kereta melesat ke arah sang Ibu. Seorang Masinis kereta pun panik, dia mencoba mengerem kereta tersebut, namun hal itu sia-sia, kereta tersebut menabrak tubuh sang Ibu hingga terpental beberapa meter. Tubuhnya berlumuran dengan darah. Semua orang mengerumuni Ibu tersebut. Kemudian bibir Ibu tersebut mulai bersuara dengan terbata-bata.
“Miharu… maafkan ibu, karena ibu tidak bisa menepati janji ibu padamu. Maaf… maaf…!”
Semua orang terharu dan merasa sangat sedih atas nasib sang Ibu tersebut, termasuk Paman Takeshi yang juga menyaksikan kejadian itu. Ia pun menangis tersedu-sedu, terlebih lagi mengingat miharu yang hari ini akan pergi operasi mata. Paman Takeshi kemudian mencari Miharu ke setiap sudut stasiun itu, namun tak kunjung menemukannya. Lalu akhirnya di sebuah bangku stasiun yang sepi, ia menjumpai Miharu duduk sendirian disana.
Pamannya terus membujuk Miharu untuk pulang bersamanya, namun Miharu tetap bersikeras untuk menunggu ibunya yang tidak akan datang. Pamannya pun menyerah dan membiarkan Miharu tetap berada disana. Hingga akhirnya malam pun tiba, stasiun itu mulai sepi, hawa dingin terus mengelilingi tubuh Miharu hingga menggigil. Semakin lama tubuhnya semakin lemas dan tidak bisa bertahan dalam hawa dingin itu dan akhirnya ia meninggal, tergeletak di bangku stasiun itu.
Keesokan harinya semua orang di stasiun itu digemparkan oleh penemuan mayat seorang gadis kecil yang sudah terbujur kaku. Sang Paman juga mendengar berita itu. Ia benar benar merasa bersalah pada keponakannya itu. Terlebih lagi ia tidak bisa melaksanakan keinginan terakhir keponakannya itu. Dan sampai kapanpun janji itu tak kan pernah dapat ditepati.
THE END